Aku adalah seorang mahasiswa pada salah satu universitas swasta di Medan. Kini sudah memasuki masa-masa akhir—dalam status—padahal aku masih menyisakan banyak SKS lagi. Kata bathinku, saat kondisinya membaik, aku bisa menyelesaikan tanpa halangan. Itu artinya—tentu saja bukan—untuk mengelak dari tudingan sifat “pemalas”. Kalau itu yang pantas, it’s OK.
Yang namanya mahasiswa pasti akrab dengan yang namanya jadwal, beban SKS, mata kuliah, dan tentu saja DOSEN. Ntah, kenapa makhluk yang fungsinya sebagai tenaga pengajar ini (ingat, bukan pendidik) dekat dengan mahasiswa karena kemutlakannya dalam tahap-tahap akademis mahasiswa itu sendiri. Dan seperti guru juga, dosen mempunyai hak memberikan nilai kepada mahasiswanya. Tapi, saya tidak bicara tentang nilai karena itu jarang sekali terjadi pada saya, sekalipun sebagai mahasiswa.
Dosen memang sangat berpengaruh dalam pendidikan mahasiswa. Orang tua saya menganggap dosen di atas guru. Karena dia seorang guru dan menginginkan saya menjadi dosen kelak. Memang sih, mereka mau saya menjadi guru, Cuma seperti iklan : tinggian dong! Makanya mereka bilang dosen.
Saya pernah sebal—ngga sekali—pada dosen. Saya memang tidak terlalu suka dengan metode pembelajaran di kampus yang mengandalkan kemampuan dosen dan melulu itu. Istilahnya—bukan menjelekkan—dosen di kampus saya bukan dosen favorite. Dosen-sentris. Melulu dosen. Mahasiswa seperti saya yang dimana-mana mahasiswa cenderung idealis, begitu juga saya yang idealis tapi begok, berontak, masa bodo, etc.
Saya cenderung ngga peduli. Seperti sekarang, saya tak peduli dengan nilai mata kuliah Etika yang akan saya dapatkan nanti. Mungkin ini dari pengalaman sendiri berkomunikasi dengan Sang Dosen.
Ceritanya, saya absen hingga empat kali pada pertemuan pertama. Lalu kembali masuk dengan harapan mata kuliah itu akan saya sukai. Dan benar, saya tertarik dengan itu dan menuliskan puisi setelah tahu sedikit tentang nurani.
Sang Dosen memanggil nama peserta mata kuliahnya. Absensi seperti masa SMU dulu. Terang saja nama saya tidak ada, karena saya baru pertama kali mengikuti Etika. Lalu, saya, beserta beberapa teman yang terlambat melapor setelah kuliah berakhir. Dosen itu bilang, TULISKAN NAMA KALIAN PADA SELEMBAR KERTAS DAN ANTARKAN KE KANTOR!
Saya sengaja membuat pesannya itu dengan huruf kapital bukan bermaksud marah. Tapi, Dosen memang berhati lembut dan gaya bicaranya tenang dan pelan. Dan nama saya ada di kertas itu, karena saya yang menulisnya.
Pertemuan selanjutnya juga demikian. Saya datang tepat waktu. Duduk manis dengan antusias mencatat penjelasannya di buku, berpikir dan menjadi tempat bertanya teman-teman yang duduk bersebelahan. Karena jujur, saya tertarik dengan penjelasannya yang universal dan tidak membosankan. Lalu tiba giliran absensi, ia tak juga menyebutkan nama saya sebagai salah satu peserta kuliahnya. Saya melapor lagi setelah akhir kuliah dan ia mengatakan; IYA, SUDAH BAPAK TULIS. Dan ia pergi tergesa-gesa.
Saya yakin dengan itu, karena jujur percuma saya mengambil mata kuliahnya jika absensi tak ada dan itu akan membuat saya tidak diperkenankan mengikuti ujian di akhir semester.
Hingga pertemuan selanjutnya, ia melakukan hal yang sama. Saya tetap percaya bahwa Sang Dosen tidak melakukan kesalahan dan saya harus yakin.
Tapi, pada pertemuan berikutnya, saya ngotot untuk bertanya lebih lanjut tentang nama saya pada buku absen. Ternyata, sampai pertemuan kesekian itu, nama saya tidak ada sama sekali. Malah Sang Dosen yang meminta penjelasan, kemana saya selama ini. (seperti lirik lagu Sheila on 7).
Ia malah mengatakan itu pasti saya yang terlambat menghadiri mata kuliahnya. Tapi, bersama seorang teman, saya datang tepat waktu, duduk manis dan sekali membawakan doa pembuka. Kalau saya terlambat datang, tidak mungkin saya membawa doa pembuka. Ia melihat saya dengan sweater hitam dan kacamata dan meminta saya kedepan memimpin doa pada dua pertemuan sebelumnya. Lalu atas dasar apa keterlambatan itu? Bukti autentik tidak ada. Sedangkan catatan saya lengkap dengan penjelasannya pertama kali pada setiap mata kuliah yang saya ikuti.
Kengototan saya karena, jika nama saya tetap tidak ada hingga pertemuan itu, maka jumlah kehadiran saya sudah tidak mencukupi syarat mengikuti ujian. Di samping mata kuliah Etika yang sudah saya ketahui dari Sang Dosen, saya tidak mendapatkan apa-apa lagi. Padahal ada satu lagi: Nilai!
Saya ngotot dan menjelaskan bahwa saya tidak pernah terlambat mengikuti mata kuliahnya setelah 4 kali absen pada pertemuan pertama. Tapi, ia malah bertanya, LALU KENAPA NAMA KAMU ADA DISINI?
Lalu, saya memutuskan pergi dan pulang. Setelahnya, saya berjanji takkan datang ke mata kuliahnya lagi. Dan takkan mengulang sekiranya gagal. Dosen dengan suara pelan dan pembawaan yang mengagumkan itu mengecewakan saya. Terserah.
Yah, uneg-uneg tetap uneg-uneg. Tapi, sikap Dosen itu takkan mengubah saya. Saya tetap Chris, tetap Shinichi, tetap Aku.
Medan
01.120109.12.50
3 comments:
trus kmu terima aja digituin?
kalo aku sih, aku kejar sampe ke ujung duniadeh. kan merugikan mahasiswa. memangnya bayar kuliah murah...
mendingan diomongin aja ke dosennya. ancam aja mau diaduin ke dekan karena dosen tersebut sudah menunjukkan bahwa dia tidak berkompeten dan tidak mau bertanggung jawab sama kesalahannya.
kalo di kampusku, untuk masalah seperti ini, biasanya teman2 akan mengadukan hal ini ke senat mahasiswa, atau himpunan, nanti pengurus senant dan himpunan akan mengadukan kejadian yg dialami mahasiswa tersebut ke wakil dekan. di Medan, kampusmu, bisa gitu ga?
huff..udah nyaris setahun aku ga ke medan. pengen ke kesawan square deh. hihihihih....
@macangadungan
bang, klo disini ngelawan dosen namanya cari mati, soalnya dosen di medan ini itu2 aja, pindah kampus pun yang ketemu muka itu aja.
aku aja mau ngelanjut kuliah masih bingung, kebanyakan belum punya otak global he..he..he...
sorry nih buat para dosen atau engkongnya atau buyutnya dosen. (g semua seperti ini, tapi kebanyakan)
yelaaaah. timbang gitu doang...
nyang penting mah dapet gelar dulu (secara gua mantan mahasiwa teladan yang burak rantak kuliahnya n akhirnya lulus juga. gyahaha...)
Post a Comment