Saturday, December 6, 2008

Percaya, Sayang

Aku tak percaya.

Pasti. Siapa yang akan percaya pada pendusta tertawa sepertiku? Tidak kau, tidak dia juga. Tapi, aku pasti bilang kalau aku mencintaimu. Eh, tunggu! Aku tidak saja mencintaimu. Aku sangat menyanyangimu...

Hehehe. Aku mau bilang seperti itu. Dan aku tahu dia memang sudah tau kok. Tapi, jawabannya sama: di atas. Susah ya? Emang. Bukan itu saja. Suatu saat kamu bisa menjadi wanita paling menarik senyumnya dan penuh misteri tatapan matanya. Saat itu kamu juga bisa memendam rasa, bahkan bisa bersikap natural yang nyatanya kamu diselimuti rasa tak percaya. Jika, kamu bisa seperti itu, aku traktir semangkuk bakso, segelas jus alpukat, sebatang delfi, dan semangkuk es krim rasa coklat. Gimana?

Jika itu kulakukan, maka tiap kali keadaannya kembali, aku akan kehilangan beberapa puluh ribu karena kalah. Yap! Dia bisa melakukannya dan salah satu keahliannya sejak dulu. Jadi, gak ada gunannya mengajak taruhan. Itu lebih dikatakan membuang-buang uang. Tapi, dengan alasan berbeda, aku akan melakukannya. Tentu! Aku takkan keberatan. Karena aku sayang dia.

Tapi, dia tak percaya dan memintaku membuat agar dia percaya. Gimana ya? Secara semua aku lakukan demi dia. Aku menulis untuk dia. Aku melamun, melamunkan dia. Aku menyanyi, ada namanya. Capek deh, kalo ternyata dia gak percaya. Nasib.

Actually, ini mengganggu loh! Tentu saja mengganggu. Bagaimana bisa kamu menerima pemberian orang yang sayang padamu, tapi tak kamu percayai? Aneh. Kalau gini mah, aku ambil sikap: jangan pernah bawa kata "percaya" dalam pembicaraan. Dia gak mikir, kamu gak kepikiran. Ahak...hak...hak...

Au akh, gelap

kabbuuuurrrr

1 comments:

Septian said...

susahnya mendapat kepercayaan..jagalah kepercayaan orang lain..berusahalah mendapatkan kepercayaan orang lain..

salam kenal neh..